Sembilan Komponen Penting dalam Media Literasi

Pendidikan

banner 468x60

DINAMIKA – Dalam artikel “Digital Literacies for Engagement in Emerging Online Cultures” (2012) yang dikutip oleh Maulana, Steve Wheeler menyebutkan bahwa terdapat sembilan aspek kunci dalam literasi digital.

Kesembilan komponen ini mencakup kemampuan dalam social networking, transliteracy, menjaga privasi, mengelola identitas, menciptakan konten, mengatur dan berbagi konten, menggunakan kembali/memodifikasi konten, menyaring dan memilih konten, serta self broadcasting.

banner 336x280

Wheeler menyoroti pentingnya memahami dan mengembangkan keterampilan ini dalam menghadapi perkembangan budaya online yang terus berkembang.

1.Social Networking

Social Networking adalah kemampuan memanfaatkan fitur aplikasi sosial media, penting untuk berinteraksi online. Pengguna perlu memahami fitur tersebut, seperti yang dilakukan oleh individu dalam dunia akademik atau pemasaran untuk menjaga koneksi dan mempromosikan produk.

Pada era Digital, setiap individu umumnya memiliki multiple akun sosial media seperti Meta (Facebook), Twitter, LinkedIn, Instagram, TikTok, dan WhatsApp.

Seleksi informasi dari platform sosial media menjadi suatu keharusan. Namun, tidak semua orang teliti dalam menyaring informasi yang tersebar. Keterampilan menggunakan fitur-fitur dalam aplikasi sosial media adalah pengetahuan esensial bagi pengguna.

2. Transliteracy

Transliteracy adalah usaha menggunakan berbagai platform untuk menciptakan, berbagi, dan berkomunikasi. Fokus utamanya adalah kemampuan berkomunikasi di berbagai media sosial, grup diskusi, atau layanan online. Pengguna perlu memahami dinamika berbagai platform, seperti media sosial dan layanan pesan instan, untuk menciptakan konten yang relevan dan efektif.

Dengan transliteracy, individu dapat menghubungkan ide dan informasi melalui berbagai saluran online, memungkinkan interaksi yang lebih luas dan mendalam di tengah budaya digital yang terus berkembang. Kemampuan ini semakin penting dalam menghadapi perubahan dan perkembangan terbaru dalam ranah digital.

3. Maintaining Privacy / Menjaga privasi

Privasi memegang peranan penting dalam literasi digital, di mana kita sebagai pengguna perlu memahami tentang cyber crime, yakni kejahatan dunia maya yang mencakup aktivitas ilegal menggunakan komputer, perangkat digital, atau jaringan.

Pemahaman akan pentingnya privasi dalam literasi digital menjadi esensial bagi pengguna sosial media dari berbagai platform. Dalam era perkembangan dunia digital saat ini, kejahatan dunia maya semakin marak, dan cyber crime merujuk pada segala tindakan ilegal yang dilakukan melalui sarana komputer, perangkat digital, atau jaringan komputer.

4. Managing Digital Identity / Mengelola identitas

Managing digital identity, sebagai komponen keempat, melibatkan cara pengguna platform memanfaatkan identitasnya di berbagai media sosial yang dimilikinya. Ini mencakup bagaimana kita, sebagai pengguna, secara tepat menggunakan identitas kita di berbagai platform sosial media yang kita gunakan.

5. Creating Content / Menciptakan Konten

Membuat konten adalah keahlian yang dimiliki oleh pengguna platform saat menciptakan materi, seperti yang dapat ditemukan di platform seperti PowToon, blogspot, WordPress, dan berbagai platform lainnya.

Kemampuan pengguna dalam menciptakan dan menghasilkan konten menjadi kunci dalam berbagai platform online, termasuk di PowToon, blogspot, WordPress, dan sejenisnya. Keterampilan ini mencakup berbagai aspek, seperti penulisan, desain, dan kemampuan untuk berinovasi dalam menghasilkan konten yang menarik.

Keahlian ini memungkinkan pengguna untuk berpartisipasi aktif dalam dunia digital dengan memberikan nilai tambah melalui berbagai bentuk konten yang dapat dibagikan dan diakses oleh berbagai audiens online.

6. Organising and Sharing Content / Mengatur dan Berbagi Konten

Organizing and Sharing Content adalah kemampuan pengguna platform untuk mengelola dan mendistribusikan konten informasi dengan tujuan mempermudah penyebarannya kepada khalayak umum. Ini melibatkan cara kita, sebagai pengguna platform, mengatur dan berbagi konten informasi agar dapat diakses dengan lebih mudah oleh audiens luas.

Sebagai contoh, penggunaan situs social bookmarking menjadi salah satu strategi efektif dalam menyebarkan informasi, memudahkan pengguna internet untuk mengakses dan menyimpan konten yang dianggap relevan dan bermanfaat. Dengan demikian, Organizing and Sharing Content menjadi kunci dalam upaya memberikan aksesibilitas yang lebih baik terhadap informasi yang ingin disampaikan kepada masyarakat luas.

7. Reusing – Repurposing Content / Menggunakan Kembali – Memodifikasi Konten

Reusing/Repurposing Content, dalam konteks ini, menekankan pada kemampuan kita sebagai pengguna platform untuk membuat atau mengolah kembali konten yang sudah ada agar dapat digunakan kembali sesuai dengan kebutuhan.

Fokus utama dari komponen ini adalah bagaimana kita, sebagai pengguna platform, dapat mengedit dan menyusun kembali materi yang sudah ada untuk memberikan nilai tambah atau mengadaptasinya agar lebih sesuai dengan keperluan baru.

Dalam penggunaan platform, hal ini mencakup proses kreatif memanfaatkan kembali materi yang sudah ada, memberikan sentuhan personal, atau mengubah format sehingga kontennya dapat diaplikasikan ulang dengan cara yang berbeda dan sesuai dengan konteks atau tujuan yang baru.

Dengan demikian, kemampuan ini menjadi penting dalam menjaga keluwesan dan fleksibilitas pengguna platform dalam mengoptimalkan konten yang dimiliki.

8. Filtering and Selecting Content / Menyaring dan Memilih Konten

Filtering and Selecting Content adalah komponen yang memprioritaskan keterampilan kita dalam mencari dan menyaring informasi yang sesuai dengan kebutuhan melalui mesin pencari internet.

Fokus utama dari elemen ini adalah kemampuan kita untuk menavigasi dan memilah informasi yang relevan sesuai dengan keperluan kita menggunakan mesin pencari online.

Dengan demikian, komponen ini menekankan pentingnya kemampuan filtering untuk memperoleh hasil pencarian yang akurat dan sesuai dengan kebutuhan pengguna dalam lingkungan internet yang luas dan penuh informasi.

9. Self Broadcasting.

Self Broadcasting adalah komponen yang bertujuan untuk menyebarkan ide, gagasan menarik, dan konten multimedia melalui berbagai platform, seperti blog atau forum online. Melalui Self Broadcasting, individu dapat aktif berpartisipasi dalam masyarakat sosial online dengan berbagi informasi yang mereka miliki.

Proses ini mencakup upaya individu untuk menjadi kontributor aktif dalam literasi digital dengan cara membagikan wawasan, pandangan, dan konten multimedia mereka kepada audiens online.

Dengan melakukan Self Broadcasting, individu tidak hanya mengembangkan kehadiran daring mereka, tetapi juga berkontribusi pada pertukaran ide dan informasi dalam lingkungan digital yang terus berkembang.

Contoh Konkrit Komponen Literasi Media Digital Steve Wheeler

Contoh Konkrit yang akan dipaparkan adalah contoh yang berhubungan dengan Remaja, Akademik dan Keluarga dalam Literasi Media Digital, karena 3 ruang lingkup inilah yang paling banyak bersinggungan dengan Media Digital pada saat ini.

Social Networking (Jaringan Sosial):

Contoh Keluarga: Seorang ibu menggunakan platform sosial media untuk terhubung dengan keluarga yang berada di berbagai lokasi, berbagi momen kehidupan sehari-hari, dan menjaga keterikatan keluarga meskipun jarak terpisah.

Transliteracy:

Contoh Akademik: Seorang mahasiswa mengintegrasikan informasi dari berbagai platform online, seperti jurnal akademis, blog, dan situs diskusi, untuk menyusun tugas atau penelitian, menunjukkan kemampuan dalam transliteracy.

Maintaining Privacy (Menjaga Privasi):

Contoh Remaja: Seorang remaja yang bijak dalam menggunakan media sosial memahami pentingnya menjaga privasi online, membatasi informasi pribadi yang dibagikan agar tidak terekspos kepada orang yang tidak diinginkan.

Managing Digital Identity (Mengelola Identitas Digital):

Contoh Dewasa: Seorang profesional menggunakan LinkedIn untuk membangun dan mengelola identitas profesionalnya secara positif, menonjolkan prestasi dan keterampilan untuk meningkatkan profil online.

Creating Content (Membuat Konten):

Contoh Individu: Seseorang menciptakan blog pribadi untuk berbagi cerita perjalanan, memberikan pandangan unik dan kreatif tentang tempat yang dikunjungi, mengekspresikan diri melalui konten yang dibuat sendiri.

Organising and Sharing Content (Mengatur dan Membagikan Konten):

Contoh Keluarga: Sebuah keluarga menggunakan platform penyimpanan awan untuk mengatur dan berbagi foto serta video keluarga, mempermudah akses dan kolaborasi dalam menyimpan kenangan.

Reusing/Repurposing Content:

Contoh Akademik: Seorang guru menggunakan materi pembelajaran dari tahun sebelumnya, mengadaptasinya, dan mengolah kembali untuk membuat pendekatan pembelajaran yang lebih menarik dan sesuai dengan kebutuhan siswa saat ini.

Filtering and Selecting Content (Menyaring dan Memilih Konten):

Contoh Remaja: Seorang remaja menggunakan keterampilan filtering untuk mencari informasi yang akurat dan relevan untuk proyek sekolahnya melalui mesin pencari online, menghindari konten yang tidak relevan.

Self Broadcasting:

Contoh Individu: Seseorang berpartisipasi aktif dalam komunitas online dengan membuat konten pendek di platform seperti TikTok atau YouTube, membagikan ide, pengetahuan, atau kreativitas mereka kepada audiens yang lebih luas. (***)

banner 336x280